Mungkin Agar Kami Ingat…

Sejenak aku terbangun dari tangisanku yang ku pikir itu tidak penting. Aku terganggu dengan suara gemuruh ramai di depanPicture1 rumahku. Lantunan ayat-ayat suci yang biasa aku dengar dari masjid samping rumahku yang menjadi rutinitas di hari-hari terakhir ramadhan ini, berganti dengan suara hiruk-pikuk ketakuktan. Aku berlari menuju halaman rumah, ku lihat puluhan motor dan sepeda berhenti tak beraturan tepat di depan rumahku. Aku bingung, betapa banyak orang, beberapa ada yang berbaju taqwa, baju khas buruh, pedagang, anak-anak dengan baju lengkap seragam sekolah, dan beraneka ragam pakaian mereka berkumpul tak beraturan. Kulihat di sudut kebunku yang berjarak 60 meter tampak kepulan asap hitam membumbung. Langit tampak gelap. Seketika aku panik, ku lihat keluarga serta semua tetanggaku berhamburan keluar rumah. Semua warga panik, beberapa tampak mengevakuasi barang-barang dari rumahnya. Di sudut sana, rumah kakakku tepat disamping kepulan asap dan api yang membara. Tapi kakakku yang ke-3 ini tak berada di rumahnya.

“Mas, mas, ini gimana? Pemadam, pemadam kebakaran sudah dihubungi?”, ujarku kepada kakakku yang lain, panik.

“iya, sudah. Tapi ga tau ini. kenapa tidak sampai-sampai. Api semakin besar”, ujarnya sambil sibuk dengan hp-nya. Kakakku berkali-kali memencet hp-nya. Ia mondar-mandir, berfikir keras.

“Mas, mas, itu rumah Mas Didi sudah dekat sekali dengan api. Barang-barang nya gimana mas. Aku masuk saja gimana mas. Kasihan belum di evakuasi”, ujarku kepada kakakku. Kakakku tampak bingung

“iya harusnya begitu, tapi. Tapi api sudah semakin dekat. Lebih baik utamakan keselamatan jiwa”, ujar kakakku.

Berkali-kali aku mondar-mandir. Aku berfikir keras. Apa yang bisa aku lakukan?. Disini banyak orang, namun apa yang bisa kami perbuat?. Kebakaran yang melalap pabrik kayu yang tepat berada di samping sudut kebun rumah kami semakin lama semakin membesar. Api itu laksana kobaran amarah yang siap memangsa apapun yang berada di dekatnya. Ya Allah, apa yang bisa kami perbuat??.

Aku mencoba menghampiri kakakku kembali. Kakakku  bilang, mobil pemadam kebakaran mengalami kendala untuk masuk di desa kami ini. La khaula wa la kuwwata illa billah... Kami hanya pasrah. Aku berfikir, kami hanya mampu berdo’a dan berharap atas pertolongan Allah. Hujan? Hanya hujan yang bisa kami harapkan untuk dapat melawan ganasnya api itu. Aku mengajak saudara-saudara ku untuk melakukan sholat meminta hujan. Aku menuju ke kamarku. Ku lihat ayahku sedang sujud di sana. Aku meneteskan air mata, ya Allah ya robbi, tiada daya dan kekuatan melainkan pertolongan-Mu.

Kobaran api itu semakin berkobar. Ku dengar, keponakanku yang berusia 10 tahun menangis karena ketakutan. Api itu memang sangat menakutkan. Aku pikir, karena kami memang baru kali ini mengalaminya. Tiba-tiba aku terpikir akan sebuah negeri mungil yang semakin hari semakin terkikis akibat kekejaman israil yang biadab. Iya, palestina. Bagaimanakah nasib saudara-saudara kami  sesama muslim di sana yang setiap harinya sudah menjadi suatu hal yang rutin bagi mereka kobaran api akibat dentuman bom yang sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Mungkin mereka sudah lupa dengan apa yang dinamakan takut akan gulungan-gulungan api itu. Mungkin anak-anak kecil di sana ‘dipaksa’ dewasa terlalu cepat untuk menghadapi kobaran-kobaran api itu. Ya Allah, mungkin baru kali ini kami berdoa dengan sungguh –sungguh karena ketakutan kami akan api itu. Sedang selama ini, kami hanya berdoa sekedarnya tanpa kesungguhan berempati akan penderitaan saudara sesama muslim kami di palestina. Ya Allah, apakah ini salah satu bentuk pembelajaran, agar kami lebih berempati?. Ya Allah, ampunilah kami.

Gulungan api itu semakin berkobar. Delapan mobil pemadam kebakaran akhirnya berhasil masuk ke area pemukiman rumah kami. Petugas pemadam berusaha keras menjinakkan gulungan-gulungan membara itu. Gulungan asap tebal masih menutup area pemukiman rumah kami. Genuk tampak suram. Langit dipaksa menelan asap polusi yang tak henti-hentinya mengepul dari kobaran api itu. Pipiku serasa basah. Ku lihat, kakakku, mas Didi di depanku, ia pasrah. Tangisan keponakanku masih terdengar. Air mataku samakin menetes. Oh Palestina, bagaimana dengan kalian…

*sm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s