Yang Lebih dari sekedar Kehilangan HP…. :D

Saat itu, sore hari pukul 18.00 WIB aku hampir sampai di rumah setelah seharian beraktivitas di kampus. SaatFoto1016 hampir sampai rumah, aku mendengar ada sesuatu yang jatuh. Aku kira itu hanya batu yang terlindas motor yang ku kendarai. Tapi, ketakutan akan kehilangan handphone kesayangan membuatku buru-buru membuka tas dan menggeledah semua isi tas saat baru sampai rumah. Ternyata benar, handponeku tidak ada. Sesaat, aku berlari menuju jalan yang tadi ku lalui. Aku bingung, betapa rasa kehilanganku waktu itu. Padahal saat itu, sudah saatnya aku harus menuanaikan sholat maghrib, tapi karna saking panik nya waktu itu, aku tidak segera menunaikan sholat malah bingung dengan handpone  yang hilang. Rasa-rasanya tak bisa khusuk jika sholat dalam kondisi kehilangan. Astaghfirullah…

==================================================================

Mungkin begitulah, salah satu gambaran saat kita kehilangan secuil duniawi kita. Rasa-rasanya beribu penyesalan menyesak jiwa, begitu mudahnya berderai-derai air mata menganak sungai di pipi saat secuil dunia raib dari genggaman tangan. Tetapi anehnya, tak ada rasa sedetikpun rasa penyesalan, apalagi air mata ketika sesuatu yang lebih baik dari dunia dan seisinya berlalu begitu saja tanpa sempat kita tunaikan.

“Dua rakaat fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya” (HR. Muslim)

Ya, ialah shalat sunnah dua rokaat sebelum shubuh atau yang lebih dikenal dengan sholat sunnah fajar, memang bukanlah salah satu sholat wajib. Namun sholat sunnah ini salah satu sholat yang sangat dianjurkan oleh Rosulullah SAW, sehingga dikategorikan sebagai sunnah muakkad.

“Jangan engkau tinggalkan kedua rokaat sunat fajar itu, meskipun engkau dikejar oleh tentara berkuda” (HR. Abu Daud dan Baihaqi)

Walau sedemikian besar pahalanya, bukan berarti kita harus berpayah-payah dalam mengerjakannya. Rosulullah mengerjakannya hanya dua rokaat saja. Itupun suratnya pendek-pendek. Terkadang beliau hanya membaca surat al kafirun dan al ikhlas.  Bahkan saking pendeknya Aisyah pernah mengira bahwa beliau tidak membaca surat al fatihah. Bahkan apabila tidak sempat mengerjakannya karna udzur, maka dapat mengerjakannya saat setelah sholat subuh ataupun setelah terbitnya matahari.

“Barangsiapa belum mengerjakan dua rokaat fajar, maka kerjakanlah setelah matahari terbit” (HR At Tirmidzi, Al Hakim, dan Ibnu Hibban)

Kalau kita melakukan sholat dua rokaat dengan tuma’ninah, waktu yang dibutuhkan tidak lebih dari 5 menit. Sementara untuk dunia, dikejar sejak bangun tidur sampai tidur kembali pun tidak akan pernah ada habisnya. Jika demikian, masihkah kita menyepelekannya?😀 *SM

Referensi: Majalah Arrisalah ed. Agustus 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s