30 Hari Mencari Cinta Illahi ^_^

Malam ini Jum’at, 10 Agustus 2012. Tepat 22 Ramadhan 1433 H. Subhanallahbulan yang penuh berkah ini hampir usai.liqo aku urgensi Sudah dua pertiga lebih, bulan mulia ini kita lalui. Bulan yang senantiasa ditunggu-tunggu oleh ummat Islam di seluruh dunia. Bulan yang seandainya manusia tahu keutamaannya niscaya mereka menginginkan seandainya setiap bulan adalan bulan Ramadhan.

Dari ibnu Abbas ra;katanya, aku mendengar Rasul saw. bersabda : “Andai kata umatku tahu tentang sesuatu yang tersembunyi dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka mengharapkan seluruh bulan dalam setahun menjadi bulan Ramadhan semuanya”.

               30 hari sebenarnya tak cukup untuk kita mencari cinta Allah SWT. CintaNya Maha Agung, tiada yang dapat mencintai kita sebaik Dia. CintaNya cinta sempurna. Justru apa peranan kita sebagai hambaNya untuk membalas cintaNya? Mengabdikan diri pada Pencipta teragung kita, menyemai rasa kecintaan yang tak terbagi kepada selain-Nya, melaksanakan perintah Allah dan tentu meninggalkan laranganNya. Sudahkah kita melakukannya? Sempurnakah cinta kita?

Ramadhan tahun ini berbeda bagi saya. Jika tahun lalu saya disibukkan dengan persiapan-persiapan sebagai mahasiswa baru dan lebih banyak melewatinya di rumah, tapi tahun ini nyaris saya jarang pulang ke rumah. Sampai-sampai saya dijuluki “Bang Toyyib”. Hmm, julukan dari kakak karena memang saya sering pulang 3hari sekali.

Mengikuti sebuah kepanitiaanRamadhan di bulan ini, memberi kesan yang mendalam bagi saya. Di kepanitiaan ini, saya tak mengira jika ternyata panitianya sedikit sehingga kami yang sedikit ini harus ekstra berjuang keras. Dari kegiatan inilah saya bertemu dengan ikhwah seperjuangan. Dari mereka saya belajar banyak. Bersama mereka pula saya merasakan ikatan ukhuwah. Bagaimana tidak, kami yang hanya bertiga hampir setiap hari bertemu. Bersama bahu-membahu dalam mengemban tugas yang diamanahkan. Kadang kami merasa bingung membagi tugas, perasaan ingin segera bertemu keluarga tercinta, dan kadang perasaan jenuh datang menghampiri. Itu semua menjadi ‘percikan warna-warna’ yang menghiasi rutinitas di 30 hari ini.

Saat kejenuhan itu hadir, saya sempat mengeluh. Saya merasa capek daningin pulang saja seperti yang lain. Tetapi ternyata aduan saya di suatu siang itu malah membuat saya menata kembali ‘langkah-langkah kecil’ ini. Bahwa aktivitas yang saya jalani ini adalah sesuatu yang harus saya syukuri. Allah-lah yang mengizinkan atas nikmat kesehatan, nikmat kesempatan, nikmat kemampuan, serta diberi kemudahan akan banyak hal. Saya ingat kata-kata seorang kakak senior saat itu, “Saat kita diberi kesempatan oleh Allah maka nikmatilah saat-saat itu, syukurilah itu semua sebagai sesuatu yang indah, dan berusaha lakukan yang terbaik karena belum tentu diberi kesempatan lagi oleh Allah….”.

Sore itu saat saya duduk sendiri mentadabburi ayat-ayat ilahi, disertai desiran angin lembut di serambi masjid kampus. Saat itulah saya menikmati saat-saat itu. Saya akan merindukan saat-saat menunggu datangnya peserta. Saya akan merindukan saat-saat melihat bahagianya menyaksikan teman-teman bersemangat dalam  majelis ilmu, saya akan merindukan saat-saat indah hampir tiap hari bersama kedua ikhwah seperjuangan. Saya akan merindukan saat-saat kami bertiga duduk diserambi masjid berbuka puasa bersama sambil membicarakan acara kita hari ini, serta bagaimana acara untuk hari berikutnya. Saya akan merindukan saat-saat kami ber-fastabiqul khoirot saling semangat-menyemangati untuk amaliyah di bulan ramadhan,  juga saat-saat bertukar senang sedih bersama; saat saya kehilangan helm kesayangan, saat salah satu diantara kami menghadapi perjuangan yang tak membawa hasil yang diharapkan serta saat-saat saling menguatkan. Saya akan merindukan saat kami saling berbagi tentang amanah-amanah yang diemban. Saya akan merindukan saat-saat kami berbagi kisah perjuangan sebagai seorang ‘ghuroba’. Sungguh saya bersyukur kepada Allah dipertemukan dengan mereka.

Inilah 30 hari mencari cinta. Sekali lagi, 30 hari memang tak cukup untuk menggapai cinta Allah, cinta ilahi. Namun ini semua akan menjadi berbeda manakala tujuan  kita seperti tujuan Allah yang tercantum dalam QS. Al-Baqoroh:183,

“……diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum kamu, agar kamu bertakwa”.(QS. Al-Baqoroh:183)

 Ya, tujuan adanya bulan Ramadhan adalah sebagai bulan tarbiyyah diri, untuk mendidik kita menjadi orang yang bertakwa.

Kini Ramadhan telah berlalu, bukan bermakna itu hanya menjadi titik noktah pada amaliyah yang telah kita lakukan. Istiqamah. Siapa tahu, ini Ramadhan terakhir. Jadikan Ramadhan sebagai madrasah tarbiyyah untuk menghadapi sebelas bulan berikutnya, insyaAllah. SemogaAllah masih memberi ksempatan. Sedikit mengutip dari sebuah tulisan,

 “Jadilah kamu hamba Allah, Bukan hamba Ramadhan..”

Fastabiqul Khairat!! ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s