Aku, Liqo’, dan Urgensi Pembinaan

Aku hanyalah salah seorang hamba yang diciptakan oleh Allah di muka bumi. Satu makhluk di antara milyaran makhluk yang ada di jagat raya ini. Seorang hamba yang di beri kesempatan  hingga detik ini untuk merasakan nafas kehidupan. Apakah esensi dari kehidupanku hingga detik ini???

Suatu kemuliaan yang patut aku syukuri adalah “aku seorang muslim!”. Pribadi muslim yang menjadi dambaan qolbu ini senantiasa berputar-putar dalam bayangan. Menjadi muslim idaman dan muslim ideal, menjadi sebuah cita-cita.

Bissmillah… inilah aku….

Aku Siti Munadliroh, biasa dipanggil Muna. Aku terlahir dari keluarga yang tinggal di desa Banjardowo, Kec. Genuk, Kota Semarang. Sebuah daerah perbatasan antara kab. Demak dan Kota Semarang. Ayahku hanyalah seorang buruh tani yang bekerja di kebun yang kami miliki, sedangkan ibuku adalah seorang penjual sayur dan sembako yang membuka warung kecil di depan rumah kami. Aku merupakan anak terakhir dari 8 bersaudara. Kelima kakakku laki-laki yang alhamdulillah kini sudah berkeluarga, sedangkan kedua kakak perempuanku masih menimba ilmu dan menjadi ‘ustadzah’ di salah satu pondok pesantren Islam di Kab. Jepara. Sedangkan aku sendiri, menimba ilmu di Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Diponegoro angkatan tahun 2011. Kini aku telah menempuh semester 2.

Sejak kecil, kami memang dididik dengan lingkungan Islami. Semua kakakku sebagian besar pernah menimba ilmu di pondok pesantren Islam. Sedangkan aku sejak SD sekolah di SDIT, SLTP di Madrasah Tsanawiyah, dan SLTA di Madrasah Aliyah Negeri. selain di sekolah formal, keluargaku juga dididik di Taman Pendidikan Al-Qur’an, yaitu TPQ yang didirikan oleh kakak tertuaku. Ayah dan ibuku memang sangat berharap kami menjadi seorang yang teguh dan kuat dalam pembinaan Islam. Bahkan, aku pun awalnya diminta ayah untuk melanjutkan di sebuah pondok pesantren. Tetapi, dengan alasan kakak-kakakku ayahku akhirnya mengijinkan aku untuk melanjutkan pendidikanku hingga di SLTA dan di Perguruan Tinggi Negeri ini. Aku masih ingat, saat itu kakakku hanya berpesan bahwa beliau percaya aku akan tetap ‘kuat’ walaupun sekolah di PTN yang sebagian besar hanya memikirkan duniawi dan sedikit pendidikan diennya. Beliau bilang karena keinginantahuanku yang tinggi tentang agamaku dan juga karena selama ini beliau melihatku suka membaca buku apapun, bahkan buku-buku yang berserak di lemaripun atau bahkan kertas-kertas yang berserakan akan aku baca. Mungkin beliau berlebihan dalam menilaiku, tapi bagiku ini adalah sebuah amanah dan kepercayaan yang harus aku tunaikan sebaik-baiknya.

Alhamdulillah, aku senang sekali akhirnya ayahku meridloiku untuk melanjutkan studiku di perguruan tinggi. Walaupun sesekali ayahku selalu memberi iming-iming, beliau mau berhenti merokok asalkan aku mau masuk pesantren dan berjuang menjadi hafidzah. Kadangkala aku sedih mengingatnya, tapi kakak-kakak, teman-teman, dan keluargaku yang lain selalu memberi semangat bahwa aku harus tetap memberi harapan kepada ayahku bahwa aku bisa tetap menghafal al-qur’an walaupun sangat sulit melihat akademik jadwalku begitu padatnya. Ya Allah, permudahlah langkah hamba….

Walaupun ayahku selalu tetap mengharap agar aku masuk pesantren saja, tapi beliau tetap menyediakan uang kuliah buatku. Beliau menyediakan uang 10 juta untuk aku dan kedua kakakku. Alhamdulillah, walaupun sangat jauh dari cukup untuk biaya masuk perguruan tinggi yang begitu melambung saat ini, tapi aku selalu meyakinkan keluargaku bahwa aku bisa mendapatkan beasiswa. Awalnya kakakku tidak percaya dengan harapanku, apalagi aku yang bersikeras masuk fakultas kedokteran dengan biaya yang sungguh sangat mustahil bahkan untuk ilmu keperawatan pun, biayanya sangat mahal. Tapi aku selalu meyakinkan dengan berusaha keras bersama sahabat dan teman-temanku untuk mencari info-info beasiswa. Berkali-kali gagal dan putus asa kami lewati. Ya Robby, jangan sampai kami berputus asa dari rahmat-Mu….

_Sabtu, 30 juni 2012….

Kini, satu tahun sudah aku menimba ilmu  di perguruan tinggi negeri ini, seorang mahasiswa Universitas Diponegoro dengan predikat sebagai mahasiswa penerima beasiswa penuh. Suatu hal yang harus aku syukuri sebagai karunia Allah yang tak boleh ku melalaikannya.

Di sinilah, aku menemukan teman-teman dengan berbagai macam karakter yang di sana aku belajar. Belajar untuk mengenal, belajar memahami, belajar saling tolong-menolong, dan belajar untuk berkorban. Disinilah aku belajar tahapan ukhuwah, ada ta’aruf tafahum, ta’awun serta takaful. Merekalah yang memberiku motivasi untuk terus bersemangat menuntut ilmu.

Alhamdulillah, di perguruan tinggi negeri ini aku dipertemukan oleh Allah dengan keluarga keduaku yaitu kakak-kakak dan teman-teman kosku. Mereka mengajariku akan banyak hal. Bagaimana hidup bersosialisasi dengan orang lain, bagaimana hidup dengan cara Islami, bagaimana hidup dengan persaudaraan, bagaimana belajar mengurus rumah, bagaimana belajar untuk peduli dengan sesama, bagaimana berfikir untuk ummat, dan lain-lain. Sungguh sebuah pembelajaran pelan-pelan dan tidak memaksa.

Di universitas ini pula, aku dipertemukan oleh teman-teman liqo’ yang luar biasa. teman yang pasti bukan sebuah kebetulan Allah mempertemukan kami. Teman pengganti liqo’ yang pernah aku ikuti ketika di SLTA dulu. Di kelompok halaqoh ini, aku belajar lebih mendalami agamaku, belajar Islam bukan hanya sekedar antara pahala dan dosa tapi lebih dari itu. Islam is my life, Islam adalah solusi, Islam adalah kebahagian dan Islam adalah rahmatul lil alamin. Sungguh inilah sebuah urgensi pembinaan yang aku cari.

Liqo’ adalah satu wasilah untuk saling mengingatkan dan men-charge ruhiyah yang kering. Liqo’ adalah tempat berbagi ilmu dan perbersihan hati/jiwa, serta tempat saling memahami kelebihan/kekurangan antara murobbi dan mutarobbi.            Dengan liqo’ dapat lebih mengenal karakter pribadi dan belajar untuk dapat membentuk kepribadian menjadi pribadi yang utuh (sholeh) dan bermanfaat bagi sesama. Dengan memahami jati diri sebagai hamba Allah, sehingga akan lebih memahami akan makna hakiki dari kehidupan ini. Belajar peran-peran hidup yang aku jalani dan apa tujuan hidup dimuka bumi ini.

Dengan liqo’, hidup makin terarah karena setiap pekan bahkan setiap saat akan selalu mendapatkan masukan dan nasehat (kontrol) dalam setiap aktifitas.  Ibarat seorang pengendara yang disetiap jalan ada petunjuk lalu lintas, tentunya akan mempermudah untuk mencapai tujuan. Dan tujuan hidup pun jadi semakin terarah manakala seseorang sering mendapatkan rambu-rambu kehidupan. Dan ini aku dapatkan di mentoring.

            Di dalam kegiatan liqo’, pemahaman wawasan Islam, insyaAllah, menjadi semakin bertambah. Tidak hanya tahu tentang ibadah-ibadah yang sering dilakukan seperti shalat, puasa ramadhan dan sebagainya. Tetapi juga mendapatkan wawasan keislaman yang integral (utuh dan menyeluruh) yang dapat menjadi pedoman dalam mengarungi hidup ini.

Apalagi kini aku masuk dalam Departemen Mentoring (liqo’). Suatu departemen yang sungguh luar biasa bagiku. Disana mengurusi orang-orang hebat. Disana mengurusi generasi pencetak peradaban. Aku ingin, suatu saat nanti mampu seperti mereka. Mampu ikut berjuang seperti murobbiyahku. Seperti Rosul, dan seperti pengikut jejak para rosul untuk menyebarkan Islam melalui dakwah fardhiyah ini. Aku ingin bergabung menjadi salah satu di antara mereka. Semoga suatu saat nanti, Allah mengabulkannya. Ammin, Ammin ya Robbal ‘alamin… (SM)

_Selesai J J J _                                                                  

Ahad, 1 Juli 2012

00: 32 wib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s