Saya dan Mentoring*

            Mentoring merupakan sebuah metode yang bisa dikatakan sebagai grup diskusi dalam mempelajari Islam secara lebih mendalam. Bagaimanapun juga Islam merupakan agama yang kaffah atau bisa dikatakan menyeluruh dalam setiap sisi kehidupan. Namun masih banyak yang melaksanakan Islam hanya sebatas ritual, padahal semua hal dalam kehidupan ini telah diatur oleh sang Maha Pengatur dan menjadikan islam sebagai agama yang diridhai-Nya. Orientasi dari mentoring ini adalah pembentukan karakter dan kepribadian seseorang.

Saya sendiri pertama kali mengenal istilah mentoring sejak awal masuk di bangku kuliah. Mentoring yang ternyata saya sadari jauh sejak saya duduk di kelas 2 SLTA, dimana ternyata Mentoring adalah sama dengan Liqo’ atau taklim yang sudah saya ikuti bersama keempat teman saya. Saya mengenalnya dari kakak ipar baru saya, waktu itu.

Latar belakang SLTA Saya memang berasal dari sekolah Islam, yaitu di salah satu madrasah aliyah negeri di kota Semarang. Tetapi di sana, sama sekali tidak pernah diperkenalkan dengan istilah Liqo’, taklim, halaqoh, ataupun mentoring. Saya dan kelima teman saya yang berasal dari sekolah yang berbeda-beda berusaha untuk mengajak teman-teman kami yang lain. Memang sesuatu hal yang baru, pasti sulit diterima oleh banyak orang. Waktu itu saya hanya mampu mengajak 2 teman sedesa saya dan 2 teman dari SMA saya. Saya baru merasakan, kebenaran hadits yang pernah saya pelajari. Bahwa Islam itu Asing dan akan kembali Asing sebagaimana ia datang. Berbagai macam pendapat teman-teman yang saya ajak, dari yang curiga sampai yang percaya. Yah, inilah perjuangan. Memang untuk mengajak orang lain, tidak semudah yang saya bayangkan.

Satu setengah tahun berlalu, saya dan sedikit teman saya masih berusaha untuk tetap aktif liqo’. Walaupun selama satu setengah tahun ini, intensitas pertemuan kami sangat jarang, tetapi kami sudah mulai tidak bisa terpisah dengan kegiatan ini. Saya yang sudah diterima di perguruan tinggi negeri di kota Semarang, memaksa kami untuk berpisah. Kakak ipar saya yang bertindak sebagai murobbiyah, langsung menyampaikan saya kepada teman beliau yang ada di Universitas yang saya baru memasukinya. Di sana saya baru mengenal istilah bahwa liqo’ juga biasa disebut mentoring lanjutan.

Apalagi ketika saya tahu, bahwa di tempat baru saya ini, disini mentoring telah dilegalkan dari pihak kampus bahkan masuk dalam nilai mata kuliah agama. Sungguh suatu hal yang baru saya ketahui. Sungguh sangat berbeda di Madrasah Aliyah Negeri saya dulu. Ini adalah suatu nikmat yang patut saya syukuri. Disini saya mulai mengenal teman-teman baru dengan semangat tholabul ilmi yang tinggi. Subhanallah.. Alhamdulillah..

Mentoring, Liqo’, taklim, ataupun halaqoh bagi saya adalah sebuah pembinaan yang sangat penting bagi saya. Disana saya belajar banyak hal. Disana saya mulai mengenal siapakah diri saya, mengenal ukhuwah, mengenal urgensi pembinaan, mengenal hakikat diri, dan mengenal Agamaku lebih mendalam tentunya. Mentoring adalah satu wasilah untuk saling mengingatkan dan men-charge ruhiyah yang kering. Mentoring ataupun Liqo’ adalah tempat berbagi ilmu dan perbersihan hati/jiwa, serta tempat saling memahami kelebihan/kekurangan antara murobbi dan mutarobbi.

Dengan mentoring saya dapat lebih mengenal karakter pribadi dan belajar untuk dapat membentuk kepribadian menjadi pribadi yang utuh (sholeh) dan bermanfaat bagi sesama. Dengan memahami jati diri sebagai hamba Allah, sehingga akan lebih memahami akan makna hakiki dari kehidupan ini. Belajar peran-peran hidup yang saya jalani dan apa tujuan hidup dimuka bumi ini.

Dengan mentoring, hidup makin terarah karena setiap pekan bahkan setiap saat akan selalu mendapatkan masukan dan nasehat (kontrol) dalam setiap aktifitas.  Ibarat seorang pengendara yang disetiap jalan ada petunjuk lalu lintas, tentunya akan mempermudah untuk mencapai tujuan. Dan tujuan hidup pun jadi semakin terarah manakala seseorang sering mendapatkan rambu-rambu kehidupan. Dan ini saya dapatkan di mentoring.

Di dalam kegiatan mentoring, pemahaman wawasan Islam, insyaAllah, menjadi semakin bertambah. Tidak hanya tahu tentang ibadah-ibadah yang sering dilakukan seperti shalat, puasa ramadhan dan sebagainya. Tetapi juga mendapatkan wawasan keislaman yang integral (utuh dan menyeluruh) yang dapat menjadi pedoman dalam mengarungi hidup ini.

Apalagi kini saya masuk dalam Departemen Mentoring, suatu departemen yang sungguh luar biasa bagi saya. Disana mengurusi orang-orang hebat. Disana mengurusi generasi pencetak peradaban. Saya ingin, suatu saat nanti mampu seperti mereka. Mampu ikut berjuang seperti murobbi saya. Seperti Rosul, seperti pengikut jejak para rosul untuk menyebarkan Islam melalui dakwah fardhiyah ini. Saya ingin ikut bergabung menjadi salah satu di antara mereka. Semoga suatu saat nanti, Allah mengabulkannya. Ammin, Ammin ya Roobbal ‘alamin… (SM)

2 responses to “Saya dan Mentoring*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s