_Sebuah Refleksi diri_


Aku hanyalah salah seorang hamba yang diciptakan oleh Allah di muka bumi. Satu makhluk di antara milyaran makhluk yang ada di jagat raya ini. Seorang hamba yang di beri kesempatan  hingga detik ini untuk merasakan nafas kehidupan. Apakah esensi dari kehidupanku hingga detik ini???

Suatu kemuliaan yang patut aku syukuri adalah “aku seorang muslim!”. Pribadi muslim yang menjadi dambaan qolbu ini senantiasa berputar-putar dalam bayangan. Menjadi muslim idaman dan ideal, menjadi sebuah cita-cita.

Realitas terus berjalan, melintasi waktu dan melindas orang-orang yang hidup hanya ingin terus bermimpi dalam ‘tidur’nya. Hanya orang-orang yang berkomitmen tinggi, yang akan terus tegak di atas jalan ini.

 “Dan jika kalian berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kalian) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kalian (ini)”. [ QS. Muhammad : 38 ].

Sungguh Allah tidak butuh ketaatan hamba-Nya. Manusia taat ataupun tidak sama sekali tidak akan mengurangi keagungan Allah. Kelak, akan ada pengganti-pengganti lain yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya. Sungguh, agama ini hanya akan tegak di atas pundak orang-orang yang memiliki azam yang kuat. Ia tidak akan tegak di atas pundak orang-orang yang lemah dan hanya suka berhura-hura.

Menjadi pribadi muslim adalah keniscayaan, dan Keistiqomahan untuk terus tegak di atas jalan ini tak semudah dalam bayangan. Tetapi, segala sesuatu tak lebih sulit dari sekedar rencana. Dan setiap rencana tidak akan berarti apa-apa tanpa sebuah tindakan.

Kini awali semua dengan mulai berfikir, apa yang sudah ku lakukan dan apa yang harus saya lakukan. Kebermanfaatan hidup untuk orang lain itulah sebenarnya awal. Kebermanfaatan untuk diri, orang tua, keluarga, serta kampus tempatku menimba ilmu. Semua ini harus ditujukan hanya untuk mencapai ridlo Allah SWT sang penggenggam jiwa seluruh makhluk.

Bismillah…

Berawal dua tahun yang lalu saat aku masih duduk di kelas 2 SMA. Aku bermimpi untuk masuk di perguruan tinggi negri. Dengan berbagai hambatan, termasuk masalah biaya. Hingga info beasiswa apapun itu, pasti aku ikuti. Entahlah, pikiranku hanya terfokus bagaimana caranya agar aku tetap mampu melanjutkan studiku. Orang tuaku, kakak-kakakku, saudaraku, dan teman-temanku mereka semua mendukung dan mendo’akan perjuanganku. Dengan air mata orang tuaku yang senantiasa meneteskan air matanya untukku.

Dan kini, satu tahun sudah aku menimba ilmu  di perguruan tinggi negeri ini, seorang mahasiswa Universitas Diponegoro dengan predikat sebagai mahasiswa penerima beasiswa bidik misi. Suatu hal yang harus aku ingat, bagaimana mimpiku dulu, bagaimana perjuanganku dulu untuk meraih ini semua??? Saat semua sudah ku raih, sudahkah aku menorehkan sebuah prestasi disana??? Sudahkah ku bahagiakan orang-orang yang telah mengantarku di ‘bangku’ ini???

Sungguh, beasiswa yang ‘mengijinkan’ku menimba ilmu ialah berasal dari uang rakyat. Uang yang mengalir dari tiap-tiap tetes keringan rakyat. Rakyat dari kalangan kaum borjuis hingga kaum miskin papa. Tiap langkahku menuntut ilmu, tiap itu pula tak seharusnya aku melalaikan tiap tetes keringat mereka. Sungguh sangat dholim, manakala aku berleha-leha seperti mereka yang tak punya rasa malu.

Satu tahun bukanlah waktu sebentar. Satu tahun seharusnya cukup bagiku untuk mengukur diriku. Apa yang sudah saya perbuat untuk diriku??? Apakah saya benar-benar menyayangi diri sendiri dengan melakukan hal yang membuat ia selamat di dunia dan di akherat??? Apakah aku benar-benar menyayangi diri, saat aku membiarkannya jatuh dalam kubangan maksiat??? Sudahkah aku menyayangi diri, saat aku  merelakannya tidur terus menerus hingga ia menjadi seorang yang tak membawa manfaat, hanya menjadi beban bagi orang lain???

Satu tahun, apakah yang sudah kulakukan untuk orang tua ku yang senantiasa menanti kehadiranku??? Sudahkah ku buat mereka tersenyum??? Sudahkah ku buat mereka bangga dengan prestasi dunia ataupun akhiratku??? Sudahkah ku tunaikan  kepercayaan mereka kepadaku tuk menuntut ilmu di sini???? Untuk keluarga yang sennatiasa menyayangiku, sudahkah ku tunaikan hak mereka atas diriku??? Hak untuk ku hormati, hak untuk aku dengarkan, dan Hak untuk aku balas kebaikan mereka. Atau bahkan  untuk sekedar mendo’akan dan mengingat mereka aku tak sempat!!!??

Dua semester ini, sudahkah kulakukan sesuatu untuk kampusku ini??? Sudahkah aku memberi untuk kemajuan undip ini??? Ataukah malah aku menjadi mahasiswa bermasalah disana??? Satu tahun ini, sudahkan ku angkat namanya karna prestasi yang aku toreh?? Atau malah aku mencoreng namanya dengan kelakuanku yang ku tunjukkan kepada orang-orang di sekitarku???

Sembilan belas tahun ini, sudahkah ku tunaikan hak untuk agamaku??? Sudahkah ku tunaikan kewajibanku atas agamaku??? Apakah yang sudah aku lakukan demi tegaknya agama ini??? Sembilan belas tahun, sudahkah aku laksanakan aturan-aturan rabb ku, padahal aturan itu karena kasih sayang Allah kepadaku???

Ya Allah ya Robby, ampuni hamba. Terlalu banyak dosa yang telah ku lakukan. Menyesal mungkin itu kata yang sering ku ucapkan. Ampuni hamba ya Allah. Semoga penyesalan ini membawa perubahan bagi diriku. Dan penyesalan tiada guna, tanpa perubahan. Kemarin adalah kenangan, esok adalah impian dan inilah sekarang hidupku. Kan ku genggam erat. Bissmillah, siapkah ku awali hidup baru ku di pagi hari ini???. (SM*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s